Menyusuri Jejak Majapahit di Mojokerto

Kali ini saya mau bercerita tentang perjalanan saya ke Mojokerto, Jawa Timur, tiga pekan lalu, tepatnya Sabtu—Minggu, tanggal 9—10 April 2016.

Yes, it was a weekend getaway! Niat banget ya, wiken pergi ke Mojokerto. Teman saya juga heran. “Habis dari Jepang, lo ke Mojokerto? Emang ada apa di sana?” tanya dia sambil memasang muka usil setengah ngeledek seolah-olah down-grade banget trip saya kali ini.

“Iya dong, gue cinta Indonesia. Lo dulu belajar sejarah gak sih? Di Mojokerto, gue mau ke Trowulan, daerah yang ada situs peninggalan Kerajaan Majapahit!”

Oh, sudah pasti saya harus promosikan kekayaan budaya Indonesia. Salah satunya, ya yang ada di Trowulan ini. 🙂

Nah, singkat cerita, pergilah saya dengan empat teman JJRC (jalan-jalan riang dan cerdas) saya ke Mojokerto. Kami berangkat dengan penerbangan Batik Air via Bandara Soetta, Sabtu, sekitar jam 8 pagi menuju Bandara Juanda, Surabaya.

Dalam short-trip ini, lumayan banyak obyek wisata dan budaya yang kami kunjungi. Di hari pertama, kami mengunjungi Candi Wringin Lawang, Candi Brahu, Patung Sleeping Budha, Candi Bajang Ratu, dan Candi Tikus. Semua obyek tersebut ada di daerah Trowulan, Mojokerto.

Di hari kedua, kami mengunjungi Petirtaan Jolotundo, Air Terjun Dlundung, Candi Jawi, Kawasan Lumpur Lapindo, The House of Sampoerna, dan Rumah Pahlawan Nasional H.O.S Tjokroaminoto.

Whoa, banyak juga ya! Di postingan ini, saya khusus cerita tentang trip hari pertama ya. 😀

Sedikit mengingat-ingat pelajaran Sejarah waktu sekolah dulu, Kerajaan Majapahit yang berdiri pada sekitar tahun 1293-1500 Masehi mengalami masa kejayaan terutama pada jaman pemerintah Raja Hayam Wuruk, dengan Mahapatih kesayangannya, Gajah Mada, yang terkenal dengan Sumpah Palapa.

Dalam waktu sekitar dua abad pada masa berdirinya, Kerajaan Majapahit mampu menguasai berbagai wilayah Nusantara. Nah, sisa-sisa Kerajaan Majapahit dapat dilihat di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Daerah tersebut diyakini sebagai pusat Kerajaan Majapahit jaman dulu.

Peninggalan-peninggalan Majapahit di Trowulan utamanya adalah candi-candi yang sudah saya sebutkan di atas tadi. Berikut ini dokumentasi perjalanan saya menyusuri jejak sejarah Kerajaan Majapahit.

Candi Wringin Lawang

Candi Wringin Lawang. Foto diambil dengan kamera Panasonic Lumix DMC-GM1.

Candi Wringin Lawang, gapura peninggalan Kerajaan Majapahit di abad ke-14. Lokasinya berada di daerah Jatipasar, Kec. Trowulan, Kab. Mojokerto, Jatim. Gapura agung yang terbuat dari bata merah ini diyakini oleh beberapa ahli sejarah sebagai pintu masuk menuju kompleks ibukota Majapahit.

Candi Brahu

Candi Brahu. Foto diambil dengan kamera Panasonic Lumix DMC-GM1.

Candi Brahu, salah satu candi yang terletak di kawasan Trowulan, Mojokerto, tepatnya di Desa Bejijong. Candi ini juga dibangun dengan bata merah. Candi Brahu disebut-sebut sebagai tempat pembakaran jenazah raja-raja, namun belum ada bukti otentik mengenai hal tersebut.

Sleeping Budha

Sleeping Budha. Foto diambil menggunakan kamera Panasonic Lumix DMC-GM1.

Patung Sleeping Budha. Nah, patung yang satu ini tidak termasuk peninggalan sejarah Majapahit. Tapi, lokasinya tak jauh dari candi-candi peninggalan Majapahit. Patung Budha tidur ini dibangun pada tahun 1993, dan merupakan patung Budha terbesar di Indonesia dan terbesar ketiga di dunia. Luar biasa ya. Patung raksasa yang terletak di Desa Bejijong, Trowulan ini memiliki panjang 22 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 4,5 meter.

Candi Bajang Ratu

Candi Bajang Ratu. Foto diambil menggunakan kamera ponsel Asus Zenfone Selfie.

Candi Bajang Ratu, salah satu gapura megah di jaman kejayaan Majapahit, juga dibangun dari bata merah. Menurut catatan yang ada di dekat candi tersebut, gapura ini dulu berfungsi sebagai pintu masuk ke bangunan suci yang digunakan untuk memeringati wafatnya Raja Jayanegara, yang juga dipersembahkan untuk arwah sang raja. Lokasi candi ini ada di Desa Temon, Kec. Trowulan, Mojokerto.

Candi Tikus

Candi Tikus. Foto diambil menggunakan kamera ponsel Asus Zenfone Selfie.

Candi Tikus. Candi ini terletak tidak jauh dari Candi Bajang Ratu. Menurut catatan sejarah, candi ini semula sudah terkubur di dalam tanah dan ditemukan kembali pada tahun 1914. Konon, pada saat ditemukan, lokasi candi ini merupakan sarang tikus. Duh!

Karena bentuknya yang seperti petirtaan, candi ini diyakini oleh sebagian pakar sejarah merupakan tempat mandi keluarga raja. Namun, sebagian pakar lainna juga memperkirakan candi ini merupakan penampungan air untuk keperluan penduduk. Ada juga dugaan bahwa candi ini dulunya berfungsi sebagai tempat pemujaan.

Nah, itu tadi oleh-oleh perjalanan saya ke Trowulan. Menyaksikan sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit membuat saya makin bangga menjadi bagian dari bangsa yang besar ini. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.