Mempertahankan Karyawan Bertalenta

talended employee

Gambar: www.mentorcloud.com

Banyak perusahaan dan pemimpin hanya menciptakan para pengikut. Mereka belum sadar akan pentingnya mempersiapkan pemimpin baru bagi organisasi. Mereka merasa tugasnya selesai setelah merekrut dan mempekerjakan orang-orang yang bertalenta. Dan ketika karyawan yang bertalenta itu terlihat mapan dengan tugas-tugasnya, pemimpin kerap menjadi terlena, lalu lupa dan cenderung mengabaikan keahlian anak buahnya.

Pada September 2012, Deloitte Consulting, konsultan SDM asal Amerika Serikat, melansir hasil survei mereka yang berjudul Talent 2020: Surveying the talent paradox from the employee perspective. Survei itu melibatkan 560 karyawan perusahaan besar dari berbagai industri di Amerika, Asia Pasifik, Eropa, dan Timur Tengah.
Ada beberapa poin menarik dari hasil survei ini, yaitu:

  • Sebanyak 31% karyawan tidak merasa bahagia dengan pekerjaan mereka.
  • Sebanyak 41% responden mengaku ingin mencari pekerjaan baru karena pekerjaan mereka saat ini tidak sesuai atau kurang memanfaatkan keahlian mereka.
  • Sebanyak 62% responden mengaku ingin bertahan di perusahaannya karena merasa percaya dengan kepemimpinan yang ada di sana.

Ada tiga tantangan bagi pemimpin dan perusahaan yang dapat disimpulkan dari survei ini:

  1. Pemimpin dalam perusahaan harus melibatkan para karyawan dalam pekerjaan yang menantang dan bermakna—pekerjaan yang sesuai dan bisa mengasah talenta yang dimiliki para karyawan.
  2. Perusahaan harus fokus pada karyawan bertalenta yang berpotensi untuk berpindah kerja. Umumnya, para karyawan yang masuk dalam kategori ini adalah mereka yang bekerja kurang dari dua tahun di perusahaan, atau para karyawan yang berusia kurang dari 32 tahun.
  3. Perusahaan dan pemimpin harus fokus pada hal leadership. Selain menerapkan kepemimpinan yang efektif dan terpercaya, perusahaan juga harus fokus pada bagaimana mempersiapkan pemimpin masa depan bagi perusahaan.

Ada pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari survei ini. Survei ini mengingatkan para pemimpin dan HRD (human resources departement) bahwa para karyawan bertalenta, khususnya yang memegang fungsi penting dalam perusahaan, justru paling berpotensi untuk keluar atau pindah ke perusahaan lain.

Perusahaan memiliki kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. Begitu pula para karyawan. Pertanyaan yang perlu dijawab oleh para pemimpin dan HRD sekarang adalah, apakah mereka sudah memahami kebutuhan para karyawannya?

Petikan kalimat dari buku The Why of Work yang ditulis oleh Dave dan Wendy Ulrich bisa menjadi bahan pemikiran bagi para pemimpin dan HRD. “Before you ask, “Why aren’t my employees working harder?” Ask yourself, “Why are my employees working?“

*) Artikel ini saya tulis pada akhir tahun 2012 untuk ditampilkan di website QB Leadership. Karena kontennya bersifat timeless dan—menurut saya— bermanfaat, jadi saya posting ke blog ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.