2016: Jepang

Sudah lama sekali rasanya saya gak traveling. Tepatnya, sejak saya jadi karyawan kantoran lagi. Nah, belakangan ini rasanya semesta mendorong saya untuk kembali traveling. Mulai dari seorang kawan yang mengirimkan pesan di Facebook, “Mbak Ajeng, kayaknya aku kok udah gak pernah liat Mbak Ajeng posting foto-foto traveling…”

Lalu ada teman lama yang bertanya, “Jeng, udah mau tengah tahun gini… Biasanya lo udah keliling ke mana…”

Setelah itu, minggu lalu, beberapa teman di kantor merencanakan liburan ke Jepang tahun depan, bulan Februari. Kenapa tahun depan? Jepang kan lagi bagus-bagusnya di bulan April. Sakuranya mulai keluar. Ya, sengaja pilih tahun depan supaya bisa menabung dulu. Bulan Februari, karena lagi ada promo tiket untuk bulan tersebut.

Mereka mengajak saya untuk ikut traveling bareng mereka. Tapi, saya ragu. Pertama, masih winter. Kebayang kostum hangat yang harus dibawa, plus sepatu boots untuk melindungi kaki. Berat ya…

Kedua, gukguk-gukguk saya. Siapa yang sanggup mengurus mereka semua? Setau saya, binatang-binatang yang pulang dari penitipan hewan biasanya malah jadi sakit…

Ketiga, ternyata kalau saya ikut, total akan ada 6 orang dalam rombongan perjalanan. Terlalu banyak, pikir saya. Dari pengalaman, idealnya traveling bareng itu paling asyik 2-3 orang. Maksimal 4 orang lah. Lebih dari itu, biasanya akan ada yang berantem atau kesal-kesalan karena beda pendapat dan ekspektasi. 😀

Akhirnya, saya pun urung membeli tiket.

Malam hari sepulang kerja,  saya jalan dari depan komplek menuju ke rumah. Ada dua anak kecil sedang asyik bercanda sembari ngobrol. Sepintas, saya dengar salah satu anak berceletuk, “Gue Jepang ya. Pokoknya gue yang Jepang.”

Deg! Jepang! Ini sudah pertanda ke berapa. Pertanda pertama: pertanyaan teman saya lewat Facebook. Pertanda kedua: pertanyaan teman lama saya. Ketiga: anak kecil ini.

Ah, tapi saya masih ragu.

Keesok harinya, saya dan teman kerja meeting dengan seorang partner perusahaan. Tiba-tiba, partner kami ini bertanya, “Ajeng suka jalan-jalan kan? Boleh lah, nyumbang-nyumbang tulisan di blog saya.”

Lha, tau dari mana dia saya suka jalan-jalan? “Saya sudah lama gak jalan-jalan, sih…,” jawab saya.

Pertanda keempat, bahwa tampaknya saya mesti jalan-jalan.

Malam harinya, saya coba buka website AirAsia yang lagi promo. Saya pilih jadwal penerbangan ke Jepang, sama seperti jadwal teman-teman saya (yang juga masih terus bertanya dan mengajak untuk ikutan gabung dengan mereka). Sudah selesai memilih jadwal, memesan bagasi dan makanan, masuk ke menu pembayaran. Saya ragu lagi…

Penginnya sih, saya ajak ibu saya. Lagi pula, winter… dingin. Kan saya pengin lihat Sakura. Ya sudah, saya tutup browser saya, lalu tidur.

Keesokan harinya. Hari Sabtu, siang. Saya Whatsapp teman saya.

Saya: Gue belum booking tiket nih. Masih ragu. Apa iya, kantor bakal bolehin karyawannya cuti rame-rame barengan?

Dia: Tahun depan emang lo masih kerja di tempat yang sama?

Saya: Hahaha….

Setelah itu, saya baca-baca majalah milik keponakan saya, yang dia dapat dari tempat les Bahasa Inggrisnya. Saat membuka salah satu halaman majalah itu, mata saya melotot. Isinya tentang Jepang.

Duh… Semesta seolah memaksa saya untuk pergi ke Jepang. Ini pertanda kelima. Ya sudah, pikir saya. Kalau sore atau malam nanti harga tiketnya belum berubah, saya akan booking tiketnya.

Setelah beres mengerjakan segala pekerjaan rumah, saya buka laptop saya. Masuk ke website AisAsia lagi, dan mencari jadwal penerbangan. Harga belum berubah. Ya, akhirnya saya belilah tiket pulang-pergi Jakarta-Tokyo tersebut.

Kalau memang jodoh, gak akan ke mana ya. Jepang memang salah satu destinasi incaran saya, dan belum pernah saya kunjungi. Mudah-mudahan urusan persiapannya berjalan lancar, dan perjalanannya juga akan jadi perjalanan yang penuh berkat. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.