Iman, Kita, dan Gadgets

Gambar: blogspot.com

Gambar: blogspot.com

Hello! Pertama-tama, saya mau mengucapkan selamat Paskah untuk teman-teman yang merayakannya, ya.

Delapan hari setelah hari raya kebangkitan Tuhan, umat Kristiani diajak untuk menggali dan merenungkan tentang kedalaman iman kita. Karena itu, Minggu ini di gereja kita disuguhi kisah tentang Thomas, murid Yesus yang tidak percaya akan kebangkitan Yesus.

Kali pertama Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas tidak berada bersama mereka. Rasul-rasul lain bercerita kepada Thomas, “Kami telah melihat Tuhan!”

Alih-alih langsung percaya, Thomas malah berkata tegas, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu, dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya (yang ditusuk tombak oleh para serdadu), sekali-kali aku tidak akan percaya!”

Dalam Injil diceritakan bahwa ketika akhirnya Yesus menampakkan diri lagi kepada para murid-Nya―pada saat itu Thomas ada bersama mereka―Yesus pun menantang Thomas. “Taruhlah jarimu dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”

Ketika itu pula, Thomas menjadi takut dan percaya, dan ungkapan iman Katolik yang tertinggi pun meluncur dari mulutnya, “Ya Tuhanku dan Allahku.”

Saya bayangkan, jika saya hidup pada masa itu, saya mungkin masuk dalam kelompok orang yang ikut menghakimi Yesus. Atau jika saya menjadi murid-Nya, saya mungkin sama seperti Thomas.

Saya akan berkata, “Gue baru akan percaya kalau gue melihat dengan mata kepala gue sendiri!” Yah, biasanya begitu itu kata orang yang lebih sering memakai logika.

Nah, bicara soal iman, dalam misa hari Sabtu (26/4/2014) kemarin, Romo Wardjito, salah satu pastor di gereja saya, memaparkan homili yang sangat menarik. Menarik karena membuat saya merasa, jleb! Tertohok.

Menurut Romo, hubungan kita dengan Tuhan itu ibarat hubungan gadgets dengan power supply. Sejatinya, dalam hidup kita perlu mengimani Tuhan, sama seperti ponsel yang bergantung penuh pada power supply.

Ponsel, laptop, dan semua gadgets yang kita miliki mempunyai iman abadi kepada power supply. Untuk bisa berfungsi dengan baik, mereka membutuhkan energi. Dan, untuk mendapatkan energi itu, gadgets harus di-recharge secara teratur.

Lalu bagaimana dengan kita―manusia? Iman manusia kepada Penciptanya pun perlu diisi dan di-recharge secara rutin dan terus-menerus agar bisa bertumbuh dan menjadi penuh. Tapi, menurut Romo, berdoa saja tidak cukup untuk me-recharge iman kita. Berdoa saja tidak cukup untuk memenuhi hati kita dengan iman. Apa lagi, kebanyakan orang berdoa hanya untuk memohon kepada Tuhan.

“Ya Tuhan, berilah kami rejeki pada hari ini. Lindungilah keluargaku. Bla bla bla…”

Inti yang saya tangkap dari homili itu adalah, jika kita hanya berdoa saja, tanpa belajar, tanpa menggali lebih dalam soal iman, dan tanpa mempraktikkan iman tersebut, maka kita sama saja seperti ponsel biasa (bukan smartphone) yang berdoa, “Ya Tuhan lengkapilah saya dengan fitur-fitur yang lengkap”, begitu dicolok ke power supply. Sesuatu hal yang tidak mungkin.

Iman yang penuh bukan dilihat dari pengetahuan dan pemahaman kita akan doa dan isi Kitab Suci saja, melainkan juga dari pelayanan kita bagi sesama. Sejauh mana kita berguna bagi sesama―itupun bagian dari iman kita.

Ini pemikiran saya. Di sini, saya melihat bedanya kita dengan gadgets. ‘Iman’ dari gadgets itu bisa melemah. Tapi, setinggi-tingginya iman gadgets ya terisi hanya dari jumlah strip maksimal pada indikator baterainya.

Sementara, iman kita tidak ada indikator penuhnya. Iman kita bisa melemah, bisa bertumbuh, bisa menjadi stagnan, atau bisa terus bertumbuh―itu tergantung pada bagaimana kita me-recharge iman kita. Ke gereja, berdoa, mendengarkan sabda Tuhan―itu hanya beberapa cara di antaranya.

Saya setuju dengan pesan dari Romo Wardjito. Saya pikir, smartphone tercanggih pun akan sia-sia jika fitur-fiturnya tidak digunakan secara maksimal. Kita sebagai manusia diberikan talenta yang berbeda oleh Tuhan pastilah untuk suatu alasan, supaya bisa berguna bagi sesama.

Malu kan, masa kita berdoa hanya selalu untuk meminta. Lalu, kita bisa memberikan apa untuk Tuhan? Tuhan―Dia yang hadir dalam diri sesama kita yang menderita dan yang membutuhkan kita.

Jadi, sudah sejauh mana iman kita kepada Sang Pencipta? Apa talenta kita? Apakah sudah kita gunakan secara maksimal untuk hal-hal yang baik bagi sesama?

Tulisan ini sebenarnya saya buat sebagai bahan renungan saya sendiri, tapi semoga juga bisa berguna bagi teman-teman yang membacanya, ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.